Langit dan Laut

Hanya menatap
pada rupa yang hampir sama

Hanya memandang
dengan raga yang sungguh berbeda

Dan takkala awan berarak
langit menangis, takut jauh dengan laut
Laut suram, resah tak melihat langit

cinta yang tak terucap,
terasakan oleh keduanya...
Bocah

Tiba-tiba aku tersadar pada sebuah kisah yang mengikatku selama bertahun-tahun. Kisah itu telah menjadi ribuan cerpen, puisi dan syair yang kutulis. Saat aku ingat kisah ini, mataku nanar dan hatiku bak melambung entah dimana. Kawan, aku merindukanmu.

Sahabatku adalah bocah yang suka sekali bermain diluar. Rambutnya yang dipotong cepak selalu merah karena matahari. Kulitnya putih. Posturnya kecil. Matanya agak sipit namun masih besar. Bocah selalu tersenyum jahil padaku.

Masa Sd-ku dilalui bersama olok-olokan si bocah. Olokan pertama bocah adalah mataku. Mataku bundar dan lebih besar dari anak umumnya. Suatu sore si bocah tahu aku tidak biasa melirik keatas. Aku selalu menengok keatas. Paginya, lebel "plerok" telah melekat padaku.

Si bocah selalu dapat menarik perhatianku. Saat "plerok" tak lagi menarik, si bocah itu memasang-masangkan aku dengan temannya. Semua teman tertawa, wajahku merah karena marah.

Saat smp kami jarang bertemu. Kami sekolah di smp yang berbeda. Sesekali aku bertemu. aku menjadi gugup saat melihat si Bocah.

Hari itu adalah hari penerimaan rapot terakhir di smp. Kami bertemu dipersimpangan jalan. Saat itu aku yang telah digadang-gadang untuk melanjutkan sekolah di kota. Aku  sedih karena merasa berpisah dengan bocah.

Si bocah tersenyum. Aku tersadar si bocahku bukan bocah lagi. Si Bocah telah tumbuh dewasa. Posturnya telah tinggi melebihiku. Rambutnya lebih gelap dengan sisa merah rambutnya dulu.  Wajahnya telah berubah menjadi lelaki tanggung.

Dia bukan lagi bocah. Dia adalah lelaki tanggung yang tersenyum sangat manis padaku. Untuk pertama kali aku menyadari sesuatu telah terjadi di hatiku dan untuk pertama kali pula aku menyadari aku akan kehilangan dirinya. Itulah terakhir kali aku bertemu dia.
bagi roller coaster
ini tlah sampai pada rel lurus
dan ku tunggu saja

tak lagi panik cemas
hanya bosan yang datang


setelah berhari-hari akhirnya airmata itu mau bertemu dunia....

Sang gadis menangis tersedu-sedu di pundak adiknya. Segala cerita kegalauannya telah mengalir lepas. Kini segalanya terang sudah.
Sang adik bercerita bahwa ia mungkin bukan terbaik untukmu. Bahwa jodoh tidak akan kemana. Segala yang membesarkan hati sang kakak diucapkannya untuk sang kakak. Akhirnya sang gadis kembali tersenyum meskipun dengan mata yang masih basah.

"Terima kasih cinta..."....
Entah bagaimana sang pemuda begitu berbakat. Ditulisnya beruntai-untai syair-syair cinta. Untuk siapa ? Sang gadis bertanya. Apakah itu untuknya ? Apakah itu tentangnya ? demikianlah pemikiran sang gadis. Bah... mana mungkin, sang gadis bermaksud melindungi hatinya yang dulu sempat terkoyak.
Dia lupa serbuk cinta yang terhirup olehnya. Sebaik-baiknya dia membangun benteng itu, serbuk itu telah menempel, melebur dalam hatinya. Kemudian dari leburan itu muncul benih, berakar. Dari itu tunasnya menumbuhkan harapan dan kekaguman. Benteng itu tiba-tiba roboh, dan saat kuncup cinta tumbuh segala pertahanan itu sirna.
Saat segala pertahanan sirna, beruntai-untai sajak ditulis sang gadis mengenai pemuda cintanya. Dan saat kuncup itu membesar gadis itu tak mampu menahan diri untuk menyapa pemuda urakan itu. Namun saat ia mendekat, pemuda itu telihat olehnya mendekati gadis lain. Hatinya tiba-tiba kembali terkoyak. Nyala api keberaniannya tiba-tiba meredup. Ia hanya ingin menangis, menangis....
Dan entah bagaimana tubuh mungilnya mengambil jalan yang berlawanan dengan kekasih hatinya. Mungkin karena terlalu sakit ? Mungkin tak ingin kelihatan lemah ? Mungkin karena ini adalah reflek spontan tubuhnya untuk melindungi hatinya yang terkoyak ?
Berulang kali ia menangis tapi air mata itu tetap tidak mau turun. Air matanya seolah enggan menyambut dunia. Dan sang gadis masih saja berusaha menangis. Luka ini entah terasa menyakitkan.....

Cinta sering kali tak mengenal istilah "waktu dan pria idaman". Saat serbuk cinta itu terhirup oleh keduanya. siapa pun tergila-gila pada siapa pun juga...
Suatu hari disebuah obrolan yang menyenangkan, entah bagaimana serbuk cinta terhirup. Saat itu sang gadis sadar sesuatu telah terjadi. Sesuatu telah terjadi antara dirinya dan pemuda urakan di depannya.
Saat itu segalanya seolah tak tepat. Dia masih teringat sebuah janji. Janji yang tlah pudar, menjauh bagai asap. Janji yang berakhir dengan luka. 4 tahun yang lalu dia berjanji. 4 tahun kemudian sungguh janji itu tlah terkoyak.Dengan segala kekuatan ia kemudian menutup luka itu.