setelah berhari-hari akhirnya airmata itu mau bertemu dunia....

Sang gadis menangis tersedu-sedu di pundak adiknya. Segala cerita kegalauannya telah mengalir lepas. Kini segalanya terang sudah.
Sang adik bercerita bahwa ia mungkin bukan terbaik untukmu. Bahwa jodoh tidak akan kemana. Segala yang membesarkan hati sang kakak diucapkannya untuk sang kakak. Akhirnya sang gadis kembali tersenyum meskipun dengan mata yang masih basah.

"Terima kasih cinta..."....
Entah bagaimana sang pemuda begitu berbakat. Ditulisnya beruntai-untai syair-syair cinta. Untuk siapa ? Sang gadis bertanya. Apakah itu untuknya ? Apakah itu tentangnya ? demikianlah pemikiran sang gadis. Bah... mana mungkin, sang gadis bermaksud melindungi hatinya yang dulu sempat terkoyak.
Dia lupa serbuk cinta yang terhirup olehnya. Sebaik-baiknya dia membangun benteng itu, serbuk itu telah menempel, melebur dalam hatinya. Kemudian dari leburan itu muncul benih, berakar. Dari itu tunasnya menumbuhkan harapan dan kekaguman. Benteng itu tiba-tiba roboh, dan saat kuncup cinta tumbuh segala pertahanan itu sirna.
Saat segala pertahanan sirna, beruntai-untai sajak ditulis sang gadis mengenai pemuda cintanya. Dan saat kuncup itu membesar gadis itu tak mampu menahan diri untuk menyapa pemuda urakan itu. Namun saat ia mendekat, pemuda itu telihat olehnya mendekati gadis lain. Hatinya tiba-tiba kembali terkoyak. Nyala api keberaniannya tiba-tiba meredup. Ia hanya ingin menangis, menangis....
Dan entah bagaimana tubuh mungilnya mengambil jalan yang berlawanan dengan kekasih hatinya. Mungkin karena terlalu sakit ? Mungkin tak ingin kelihatan lemah ? Mungkin karena ini adalah reflek spontan tubuhnya untuk melindungi hatinya yang terkoyak ?
Berulang kali ia menangis tapi air mata itu tetap tidak mau turun. Air matanya seolah enggan menyambut dunia. Dan sang gadis masih saja berusaha menangis. Luka ini entah terasa menyakitkan.....

Cinta sering kali tak mengenal istilah "waktu dan pria idaman". Saat serbuk cinta itu terhirup oleh keduanya. siapa pun tergila-gila pada siapa pun juga...
Suatu hari disebuah obrolan yang menyenangkan, entah bagaimana serbuk cinta terhirup. Saat itu sang gadis sadar sesuatu telah terjadi. Sesuatu telah terjadi antara dirinya dan pemuda urakan di depannya.
Saat itu segalanya seolah tak tepat. Dia masih teringat sebuah janji. Janji yang tlah pudar, menjauh bagai asap. Janji yang berakhir dengan luka. 4 tahun yang lalu dia berjanji. 4 tahun kemudian sungguh janji itu tlah terkoyak.Dengan segala kekuatan ia kemudian menutup luka itu.

Sepenggal Kisah Gadis Patah Hati

Dan dengan terburunya gadis itu menelan makanannya. Setiap sendok kuah yang dipedasinya ditelannya bulat-bulat. Tidak menyentuh gigi, hampir mungkin. Seakan - akan ia ingin menelan perasaan kecewanya, sakit hatinya, dan penyesalannya. Sambil tersedak-sedak wajah cowok itu masih juga terlintas diotaknya. "Bah...!" batinnya.
"Perasaan ini seperti teraduk-aduk".
 Ingin ia maki-maki cowok itu. Tapi otak dan pikirannya berkata lain. Dari belia ia selalu belajar untuk tidak berkata kotor, keras atau menyakitkan. "Cih... buat apa dia membuatku jatuh cinta jika pada akhirnya dia mengejar cewek lain".

"Cintaku lebih besar dari cintanya... mestinya kau sadar itu... bukan dia... bukan dia... tapi aku...."
Judika, bukan dia tapi aku
awal, cinta ini terasa sulit

hatiku tak mampu berdusta

kini, segala menyakitkan
mencabut cinta menguncup
berucap bye... bye...


 dirimu
Seperti bayangan
kau mengikutiku
enyah kau...
kau mengikutiku

bah kataku...
tersenyum hatiku