ingin ku peluk
mendekap dan berkata...
      Tidak apa-apa, semua kan baik2 saja



tapi itu bohong
ingin ku rengkuh kau
tanpa tangan ini terlepas

bohong...
jika rindu dapat hilang sekejap
dan asa terbang sehempas angin
cinta luluh bak es mencair

tapi...
tangan ini jadi kaku
melihat kau bersamanya



(#terinspirasi lagu peluk-dewi lestari)
dengarkanku
morat marit tercerai-berai

resahmu resahku
dukamu dukaku
senyummu senyumku, dulu...

biar ku haturkan asaku
meski sakit itu di Ĺźini

maaf... aku ingin berjalan....


ku tulis namamu dalam angan
ku panggil namamu dalam diam
ku raba hati dalam satu tatapan

aku rindu !

tapi kau tlah dimiliki....
Langit dan Laut

Hanya menatap
pada rupa yang hampir sama

Hanya memandang
dengan raga yang sungguh berbeda

Dan takkala awan berarak
langit menangis, takut jauh dengan laut
Laut suram, resah tak melihat langit

cinta yang tak terucap,
terasakan oleh keduanya...
Bocah

Tiba-tiba aku tersadar pada sebuah kisah yang mengikatku selama bertahun-tahun. Kisah itu telah menjadi ribuan cerpen, puisi dan syair yang kutulis. Saat aku ingat kisah ini, mataku nanar dan hatiku bak melambung entah dimana. Kawan, aku merindukanmu.

Sahabatku adalah bocah yang suka sekali bermain diluar. Rambutnya yang dipotong cepak selalu merah karena matahari. Kulitnya putih. Posturnya kecil. Matanya agak sipit namun masih besar. Bocah selalu tersenyum jahil padaku.

Masa Sd-ku dilalui bersama olok-olokan si bocah. Olokan pertama bocah adalah mataku. Mataku bundar dan lebih besar dari anak umumnya. Suatu sore si bocah tahu aku tidak biasa melirik keatas. Aku selalu menengok keatas. Paginya, lebel "plerok" telah melekat padaku.

Si bocah selalu dapat menarik perhatianku. Saat "plerok" tak lagi menarik, si bocah itu memasang-masangkan aku dengan temannya. Semua teman tertawa, wajahku merah karena marah.

Saat smp kami jarang bertemu. Kami sekolah di smp yang berbeda. Sesekali aku bertemu. aku menjadi gugup saat melihat si Bocah.

Hari itu adalah hari penerimaan rapot terakhir di smp. Kami bertemu dipersimpangan jalan. Saat itu aku yang telah digadang-gadang untuk melanjutkan sekolah di kota. Aku  sedih karena merasa berpisah dengan bocah.

Si bocah tersenyum. Aku tersadar si bocahku bukan bocah lagi. Si Bocah telah tumbuh dewasa. Posturnya telah tinggi melebihiku. Rambutnya lebih gelap dengan sisa merah rambutnya dulu.  Wajahnya telah berubah menjadi lelaki tanggung.

Dia bukan lagi bocah. Dia adalah lelaki tanggung yang tersenyum sangat manis padaku. Untuk pertama kali aku menyadari sesuatu telah terjadi di hatiku dan untuk pertama kali pula aku menyadari aku akan kehilangan dirinya. Itulah terakhir kali aku bertemu dia.
bagi roller coaster
ini tlah sampai pada rel lurus
dan ku tunggu saja

tak lagi panik cemas
hanya bosan yang datang